BAB
I
TINJAUAN
TEORI
DOKUMENTASI
ASUHAN KEBIDANAN
PADA
BAYI BARU LAHIR
A.
Pengertian
Bayi
baru lahir adalah janin dengan berat
mulai dari 2500-4000 gram dengan masa konsepsi 36-42 minggu yang mengalami
proses kelahiran dan terus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uteri ke
kehidupan ekstra uteri. Beralih dari ketergantungan mutlak pada ibu menuju
kemandirian fisiologi. Tiga faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi dan
proses vital bayi baru lahir yaitu maturasi, adaptasi, dan toleransi. Selain
itu pengaruh kehamilan dan proses persalinan mempunyai peranan penting dalam
mordibitas dan mortalitas bayi. Empat aspek transisi pada bayi baru lahir yang
berlangsung cepat adalah sistem metabolisme, suhu tubuh, pernafasan dan
sirkulasi.
Bayi
baru lahir normal adalah bayi dengan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram,
cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan kongenital (cacat
bawaan).
B.
Ciri-Ciri
Bayi Baru Lahir Normal
Menurut DEPKES RI tahun 1993, ciri-ciri
bayi baru lahir normal adalah:
1. Berat
badan lahir 2500-4000 gram
2. Lingkar
dada 30-38 cm
3. Panjang
badan lahir 48-52 cm
4. Lingkar
kepala 33-37 cm
5. Bunyi
jantung pada menit-menit pertama cepat ± 180 kali per menit, kemudian menurun
sampai 120-140 kali per menit
6. Pernafasan
pada menit-menit pertama cepat ± 80 kali per menit, kemudian menurun setelah
tenang kira-kira 40 kali per menit
7. Kulit
berwarna kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup terbentuk dan
diliputi verniks caseosa
8. Rambut
lanugo telah tidak terlihat, rambut kepala biasanya sudah sempurna
9. Kuku
telah agak panjang dan lemah
10. Genetalia:
labia mayora sudah menutupi labia minora (pada bayi perempuan), testis sudah
turun kedalam skrotum (pada bayi laki-laki)
11. Refleks
isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
12. Refleks
moro sudah baik, bila bayi dikagetkan bayi akan memperlihatkan gerakan seperti
memeluk
13. Graff
refleks sudah baik, apabila diletakan sesuatu benda diatas telapak tangan, bayi
akan menggenggam
14. Eliminasi
baik, urin dan mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama berwarna hitam
kecoklatan.
C.
Perubahan-Perubahan
Yang Terjadi Pada Bayi Baru Lahir
1. Perubahan
Metabolisme Karbohidrat
Dalam waktu 2 jam setelah bayi lahir
akan terjadi penurunan kadar gula dalam darah, untuk menambah energi pada
jam-jam pertama setelah lahir diambil dari hasil metabolisme asam lemak.
Apabila terjadi hipotermi pada bayi maka metabolisme asam lemak tidak dapat
memenuhi kebutuhan pada bayi baru lahir, maka kemungkinan besar bayi akan
mengalami hipoglikemia, misalnya pada Berat Bayi Lahir Rendah, bayi dari ibu
yang menderita Diabetes Melitus, dan lain-lain.
2. Perubahan
Suhu Tubuh
Ketika bayi lahir, bayi berada dalam
suhu lingkungan yang lebih rendah dari suhu di dalam rahim ibu. Apabila bayi
dibiarkan pada suhu kamar 25° C maka bayi
akan kehilangan panas melalui konveksi, radiasi, dan evaporasi sebanyak
200 kal/kg BB/menit, sedangkan produksi panas yang dihasilkan tubuh bayi hanya
nya saja. Keadaan ini menyebabkan penurunan
suhu tubuh sebanyak 2° C dalam waktu 15 menit. Akibat suhu yang rendah metabolisme
jaringan tubuh dan kebutuhan oksigen meningkat.
3. Perubahan
Pernafasan
Selama dalam uterus janin mendapatkan
oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setlah bayi lahir, pertukaran gas
harus melalui paru-paru bayi. Rangsangan untuk gerakan pernafasan pertama
adalah:
a. Tekanan
mekanis dari dada sewaktu melewati jalan lahir
b. Penurunan
tekanan oksigen dan kenaikan tekanan karbon dioksida merangsang kemoreseptor
yang terletak di sinus karotis
c. Rangsangan
dingin di daerah muka dapat merangsang permukaan gerakan pernafasan
d. Refleks
deflaksi pada hering breur, pernafasan pertama pada bayi baru lahir terjadi
normal dalam 30 detik setelah lahir. Tekanan pada rongga dada bayi saat lahir
pervaginam mengeluarkan cairan pada paru-paru sebanyak
dari 80-100 mL, sehingga cairan yang hilang
ini diganti dengan udara.
4. Perubahan
Sirkulasi
Dengan berkembangnya paru-paru
mengakibatkan tekanan oksigen meningkat dan tekanan karbon dioksida menurun,
hal ini mengakibatkan resitensi pembuluh darah paru sehingga aliran darah meningkat.
Maka hal ini menyebakan darah dari arteri pulmonalis mengalir ke paru-paru dan
duktus anteriosus menutup. Dengan menciutnya arteri dan vena umbilikalis dan
kemudian tali pusat dipotong, aliran darah dari plasenta melalui vena kava
inferior dan foramen ovale ke atrium kiri terhenti. Sirkulasi janin sekarang
berubah menjadi sirkulasi bayi yang cukup hidup di luar badan Ibu.
D.
Penilaian
Bayi Baru Lahir
Segera setelah bayi lahir lakukan
penilaian untuk mengidentifikasi apakah bayi baru lahir memerlukan pertolongan lebih
cepat. Segera lakukan resusitasi jika bayi tidak bernafas atau bernafas
megap-megap (lemah).
Untuk memudahkan penilaian penolong
persalinan dianjurkan utnuk menilai:
1. Apakah
bayi menangis kuat ?
2. Apakah
bayi bergerak aktif ?
3. Apakah
kulit bayi berwarna kemerah-merahan ?
Keadaan umum bayi dinilai pada 1 menit,
5 menit dan 10 menit pertama setelah bayi lahir dengan menggunakan APGAR SKOR.
Penilaian APGAR SKOR ini dilakukan untuk menentukan apakah bayi memerlukan
tindakan, tetapi lebih banyak kaitannya dalam memantau kondisi bayi dari waktu
kewaktu.
TANDA
|
SKOR
|
||
0
|
1
|
2
|
|
A: Appearance Color (warna kulit)
|
Pucat
|
Badan merah, tetapi ekstremitas biru
|
Seluruh tubuh kemerah-merahan
|
P: Pulse/heart rate (nadi/frekuensi
jantung)
|
Tidak ada
|
Dibawah 100
|
Diatas 100
|
G: Grimace (reaksi terhadap
rangsangan)
|
Tidak ada
|
Sedikit gerakan mimik, menyeringai
|
Menangis, batuk, bersin
|
A: Activity (tonus otot)
|
Tidak ada, lumpuh
|
Ektremitas sedikit fleksi
|
Gerakan aktif
|
R: Respiration (usaha nafas)
|
Tidak ada
|
Lemah, tidak teratur
|
Menangis kuat
|
Apabila
hasil penilaian APGAR
·
7-10: Bayi mengalami asfiksia
ringan/dikatakan bayi dalam keadaan normal
·
4-6: Bayi mengalami asfiksia
·
0-3: Bayi mengalami asfiksia berat
E. Penatalaksanaan Awal Pada Bayi Baru
Lahir Normal
1.
Membebaskan/membersihkan jalan nafas
Bersihkan jalan nafas
bayi dengan cara mengusap mukanya dengan kain/kasa yang bersih dari darah dan
lendir segera setelah bayi lahir seluruh badan. Apabila bayi baru lahir segera
dapat bernafas spontan atau segera menangis, jangan lakukan pengisapan secara
rutin pada jalan nafasnya karena pengisap[an yang tidak dilakukan secara
hati-hati dapat menyebabkan perlukaan jalan nafas sehingga dapat terjadi
infeksi, serta dapat merangsang terjadinya gangguan denyut jantung dan spasme
pada laring/tenggorokan bayi.
2.
Mencegah kehilangan panas
Saat lahir mekanisme
pengaturan temperatur pada BBL belujm berfungsi sempurna. Oleh karena itu jika
tidak segera dilkukan pencegahan kehilangan panas bayi akan mudah terkena
hipotermia. Bayi dengan hipotermia berisiko tinggi mengalami sakit berat atau
bahkan kematian. Hipotermia mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan
basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walaupun berada dalm ruangan
yang relatif hangat. Bayi kurang bulan sangat rentan mengalami hipotermia.
Walaupun demikian, bayi tidak boleh menjadi hipertermia (temperatur tubuh lebih
dari 37,5° C).
Cegah kehilangan panas
melalui upaya berikut:
a.
Keringkan tubuh bayi tanpa membersihkan
verniks mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan.
Verniks akan membantu menghangatkan tubuh bayi. Ganti handuk basah dengan
handuk/kain kering. Biarkan bayi diatas perut ibu.
b.
Letakkan bayi tengkurap didada ibu agar
ada kontak kulit ibu dan kulit bayi. Luruskan bahu bayi dan usahakan menempel
di dada atau perut ibu dengan kepala bayi di antara payudara ibu dengan posisi
sedikit lebih rendah dari puting payudara ibu.
c.
Selimuti ibu dan bayi dan pasang topi di
kepala bayi. Kepala bayi mempunyai luas permukaan yang relatif luas dan bayi
akan dengan cepat kehilangan panas jika kepala tidfak ditutup.
d.
Jangan segera menimbang atau memandikan
bayi baru lahir, lakuakn penimbangan setelah satu jam kontak kulit ibu ke kulit
bayi dan bayi selesai IMD. Sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu
selimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan kering. Berat bayi dapat
dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian atau diselimuti dikurang dengan
berat pakaian atau selimut tersebut. Bayi sebaiknya dimandikan setelah kondisi
bayi stabil pada umumnya, tidak kurang dari enam jam untuk mencegah hipotermia.
3.
Perawatan tali pusat.
Puntung tali pusat yang
sudah diikat atau diklem jangan dibungkua atau dioleskan cairan atau bahan
apapun ke puntung tali pusat. Mengoleskan alkohol absolut 70% masih
diperkenankan, tetapi tidak dikompreskan karena menyebabkan tali pusat basah
atau lembab. Bayi yang dipakaikan popok harus dipakaikan dibawah puntung tali
pusat, jika tali pusat kotor, bersihkan dengan hati-hati menggunakan air DTT
dan sabun, segera keringkan dengan kain basah.
4.
Inisiasi menyusu dini
5.
Pencegahan perdarahan
Semua bayi baru lahir harus
diberikan vit. K1 (phytomenadione) injeksi 1 mg IM setelah proses
IMD untuk mencegah perdarahan akibat defisiensi vit. K yang dapat dialami oleh
sebagian BBL.
6.
Pencegahan infeksi mata
Salep atau tetes mata untuk
pencegahan infeksi mata diberikan setelah proses IMD. Pencegahan infeksi mata
tersebut mengandung Tetraksilin 1% atau antibiotika lain. Upaya pencegahan
infeksi mata kurang efektif jika diberikan lebih dari 1 jam setelah kelahiran.
7.
Pemeriksaan fisik
Hari pertama kelahiran
bayi sangat penting. Banyak perubahan yang terjadi pada bayi dalam menyesuaikan
diri dari kehidupan di dalam rahim ke kehidupan di luar rahim. Pemeriksaan BBL
bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin jika terdapat kelainan pada bayi.
Risiko terbesar kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama kehidupan, sehingga
jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal di
fasilitas kesehatan selama 24 jam pertama.
Pemeriksaan
fisik yang dilakukan
|
Keadaan
normal
|
|
1.
|
Lihat postur,
tonus dan aktivitas
|
· Posisi tungkai
dan lengan fleksi.
· Bayi sehat
akan bergerak aktif.
|
2.
|
Lihat kulit
|
· Wajah, bibir
dan selaput lendir, dada harus berwarna merah muda, tanpa adanya kemerahan
atau bisul.
|
3.
|
Hitung
pernapasan dan lihat tarikan dinding dada bawah ketika bayi sedang tidak
menangis
|
· Frekuensi
napas normal 40-60 kali per menit.
· Tidak ada
tarikan dinding dada bawah yang dalam
|
4.
|
Hitung denyut
jantung dengan meletakan stetoskop di dada kiri setinggi apeks kordis
|
· Frekuensi
denyut jantung normal 120-160 kali per menit.
|
5.
|
Lakukan
pengukuran suhu ketiak
|
· Suhu normal
adalah 36,5-37,5° C
|
6.
|
Lihat dan raba
bagian kepala
|
· Bentuk kepala
terkadang asimetris karena penyesuaian pada saat proses persalinan, umumnya
hilang dalam 48 jam.
· Ubun-ubun
besar rata atau tidak membonjol, dapat sedikit membonjol saat bayi menangis.
|
7.
|
Lihat mata
|
· Tidak ada
kotoran/sekret.
|
8.
|
Lihat bagian
dalam mulut. Masukkan satu jari yang menggunakan sarung tangan ke dalam
mulut, raba langit-langit.
|
· Bibir, gusi,
langit-langit utuh dan tidak ada bagian yang terbelah.
· Nilai kekuatan
isap bayi. Bayi akan mengisap kuat tangan pemeriksa
|
9.
|
Lihat dan raba
perut
Lihat tali
pusat
|
· Perut bayi
datar, teraba lemas.
· Tidak ada
perdarahan, pembengkakan, nanah, bau yang tidak sedap pada tali pusat atau
kemerahan sekitar tali pusat.
|
10.
|
Lihat punggung
dan raba tulang belakang.
|
· Kulit terlihat
utuh, tidak terdapat lubang dan benjolan pada tulang belakang.
|
11.
|
Lihat lubang
anus
- Hindari memasukkan alat atau jari dalam memeriksa
anus.
- Tanyakan pada
ibu apakah bayi sudah buang air besar.
|
· Terlihat
lubang anus dan periksa apakah mekonium sudah keluar.
· Biasanya
mekonium sudah keluar dalam 24 jam setelah lahir.
|
12.
|
Lihat dan raba
alat kelamin luar.
- Tanyakan pada
ibu apakah bayi sudah buang air kecil
|
· Bayi perempuan
kadang terlihat cairan vagina berwarna putih atau kemerahan.
· Bayi laki-laki
terdapat lubang uretra pada ujun penis. Teraba testis di skrotum.
· Pastikan bayi
sudah buang air kecil dalam 24 jam setelah lahir.
|
13.
|
Timbang bayi.
- Timbang bayi
dengan menggunakan selimut, hasil dikurangi selimut
|
· Barat lahir
2,5-4 Kg.
· Dalam minggu
pertama, berat bayi mungkin turun dahulu baru kemudian naik kembali.
|
14.
|
Mengukur
panjang dan lingkar kepala
|
· Panjang lahir
normal 48-52 cm.
· Lingkar kepala
normal 33-37 cm.
|
15
|
Menilai cara
menyusui, minta ibu untuk menyusui bayinya
|
· Kepala dan
badan dalam garis lurus; wajah bayi menghadap payudara; ibu mendekatkan bayi
ke tubuhnya.
· Bibir bawah
melengkung keluar, sebagian besar areola berada dalam mulut bayi.
· Menghisap
dalam dan pelan kadang disertai berhenti sesaat.
|
8.
Pemberian imunisasi
Imunisasi Hepatitis B
bermanfaat untuk mencegah infeksi Hepatitis B terhadap bayi, terutama jalur
penularan Ibu-Bayi. Imunisasi Hepatitis B pertama diberikan 1-2 jam setelah
pemberian vit. K, pada saat bayi berumur 2 jam. Lakukan pencatatan dan anjurkan
ibu untuk kembali untuk mendapatkan imunisasi berikutnya sesuai jadwal
pemberian imunisasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Prawirohardjo
Sarwono. 2006. Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan
Maternal Dan Neonatus. Jakarta:
YBPSP
Rahayu,
Dedeh. S. 2009. Asuhan Keperawatan Anak
Dan Neonatus. Jakarta:
Salemba Medika.
Depkes
RI. 1993. Asuhan Kesehatan Dalam Konteks Keluarga. Jakarta. Depkes RI
JNPK-KR.
2012. Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal.
Jakarta: KEMENKES RI.
terimakasih , blog ini sangat bermanfaat :D
BalasHapus