Selasa, 21 Januari 2014

ASUHAN PERSALINAN NORMAL




                Fokus asuhan persalinan normal adalah persalinan bersih dan aman, serta mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan pergeseran paradigma dari menunggu terjadinya dan kemudian menangani komplikasi, menjadi pencegah komplikasi. Persalinan bersih dan aman serta pencegahan komplikasi selama dan pascapersalinan terbukti mampu mengurangi kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.
                Paradigma baru (aktif) yang disebutkan sebelumnya, terbukti dapat mencegah atau mengurangi komplikasi yang sering terjadi. Hal ini memberi manfaat yang nyata dan mampu membantu penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Oleh karena sebagian besar persalinan di Indonesia terjadi di desa atau di fasilitas pelayanan kesehatan dasar di mana tingkat keterampilan petugas dan sarana kesehatan sangat terbatas, maka paradigma aktif menjadi sangat strategis bila dapat diterapkan pada tingkat terssebut. Jika semua penolong persalinan dilatih untuk melakukan upaya pencegahan atau deteksi dini secara aktif terhadap berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, memberikan pertolongan secara adekuat dan tepat waktu, serta melakukan upaya rujukan segera dimana ibu masih dalam kondisi yang optimal, maka semua upaya tersebut terdapat secara bermakna menurunkan jumlah kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.
                Tujuan dari asuhan persalinan normal itu sendiri adalah menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinaya melalui upaya yang diintegrasi dan lengkap, tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (optimal). Dengan pendekatan ini dapat diartikan bahwa setiap intervensi yang akan diaplikasikan dalam asuhan persalinan normal harus mempunyai alasan dan bukti ilmiah yang kuat tentang manfaat intervensi tersebut bagi kemajuan dalam proses persalinan.
                Persalinan kala II dimulai dengan pembukaan lengkap dari serviks dan berakhir dengan lahirnya bayi. Tanda-tanda bahwa persalinan sudah dekat adalah sebagai berikut.
1.       Ibu merasa ingin meneran.
2.       Perineum tampak menonjol.
3.       Ibu kemungkinan ingin buang air besar.
4.       Vulva vagina dan sfingter ani membuka.
5.       Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat.
Tanda pasti kala II ditentukan dari periksa dalam( informasi objektif) yang hasinya adalah pembukaan serviks lengkap atau terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina. Selain itu, tanda-tanda subyektif, ibu sudah ingin meneran juga harus diperhatikan . jika ibu sudah merasakan dorongan yang kuat untuk meneran, bidan harus tanggap bahwa mungkin dorongan itu merupakan suatu pertanda bahwa akan dimulainya proses persalinan.

A.      Pengertian
a.       Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke dalam jalan lahir (Saifudin, abdul bari.2002)
b.      Persalinan adalah proses pengluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melelui vagina ke dunia luar (Wiknjosastro, 2006)
c.       Persalinan normal adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan ibu sendiri, tanpa bantuan alat – alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam (mochtar, rustam.1998)

B.      Etiologi Persalinan
 Sebab terjadinya persalinan sampai kini masih merupakan teori – teori yang kompleks. Faktor – faktor humoral, pengaruh prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengaruh syaraf dan nutrisi di sebut sebagai faktor – faktor yang mengakibatkan persalinan mulai.
Menurut Wiknjosastro (2006) mulai dan berlangsungnya persalinan, antara lain :
a.       Teori penurunan hormon
Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron yang terjadi kira – kira 1 – 2 minggu       sebelum partus dimulai. Progesterone bekerja sebagai penenang bagi otot – otot uterus dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesterone turun.
b.       Teori plasenta menjadi tua
Villi korialis mengalami perubahan – perubahan, sehingga kadar estrogen dan progesterone menurun yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
c.       Teori berkurangnya nutrisi pada janin
Jika nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera di keluarkan.
d.      Teori distensi rahim
Keadaan uterus yang terus menerus membesar dan menjadi tegang mengakibatkan iskemia otot – otot uterus. Hal ini mungkin merupakan faktor yang dapat menggangu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta menjadi degenerasi.
e.       Teori iritasi mekanik
Tekanan pada ganglio servikale dari pleksus frankenhauser yang terletak di belakang serviks. Bila ganglion ini tertekan, kontraksi uterus akan timbul.
f.        Induksi partus (induction of labour)
                    Partus dapat di timbulkan dengan jalan :
1)      Gagang laminaria : beberapa laminaria di masukkan dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser.
2)      Amniotomi : pemecahan ketuban.
3)      Oksitosin drips : pemberian oksitosin menurut tetesan infuse.

C.       Patofisiologi Persalinan
a.   Tanda – tanda permulaan persalinan
                Menurut Manuaba (1998), tanda – tanda permulaan peralinan :
1)      Lightening atau settling atau dropping         Yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara. 
2)      Perut kelihatan lebih melebar, fundus uterus turun. 
3)      Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
4)      Perasaan sakit di perut dan di pegang oleh adanya kontraksi. Kontraksi lemah di uterus, kadang – kadag di sebut “ traise labor pains”.
5)      Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah juga bercampur darah (bloody show)
6)      Tanda – tanda inpartu.
Menurut Mochtar (1998), tanda – tanda inpartu :
1)       Rasa sakit oleh adanya his yang dating lebih kuat, sering dan teratur.
2)       Keluar lender bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.
3)       Kadang – kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4)      Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada.

D.      Pembagian Tahap Persalinan
a.    Persalinan kala I
            Menurut azwar (2004), persalinan kala I adalah pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap.
Dengan ditandai dengan :
1)        Penipisan dan pembukaan serviks. 
2)        Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimalm2           kali dalam 10 menit).
3)        Keluarnya lendir bercampur darah.

                                Menurut wiknjosasto, kala pembukaan di bagi atas 2 fase yaitu :
1)          Fase laten
Pembukaan serviks berlangsung lambat, di mulai dari pembukaan 0 sampai pembukaan 3 cm, berlangsung kira – kira 8 jam. 
2)          Fase aktif
Dari pembukaan 3 cm sampai pembukaan 10 cm, belangsung kira – kira 7 cm.
Di bagi atas :
a)          Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam, pembukaan 3 cm menjadi 4.
b)          Fase dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat, dari pembukaan 4 cm menjadi 9 cm
c)           Fase deselarasi : berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam pembukaan jadi 10 cm.   
  
       Kontraksi  menjadi lebih kuat dan sering pada fase aktif. Keadaan tersebut dapat dijumpai pada primigravida maupun multigravida, tetapi pada multigravida fase laten, fase aktif das fase deselerasi terjadi lebih pendek.
(1)    Primigravida
Osteum uteri internum akan membuka terlebih dahulu sehingga serviks akan mendatar dan menipis. Keadaan osteum uteri eksternal membuka, berlangsung kira – kira 13 – 14 jam.
(2)    Multigravida
Osteu uteri internum sudah membuka sedikit sehingga osteum uteri internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam waktu yang bersama.
b.      Kala II (pengluaran)
Menurut winkjosastro (2002), di mulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Pada primigravida berlangsung 2 jam dan pada multigravida berlangsung 1 jam.
Pada kala pengluaran, his terkoordinir, kuat, cepat dan lebih lama, kira – kira 2 -3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadi tekanan pada otot – otot dasar panggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Karena tekanan pada rectum, ibu merasa seperti mau buang air bersih, dengan tanda anus terbuka.
Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perineum meregang. Dengan his mengedan maksimal kepala janin di lahirkan dengan suboksiput di bawah simpisis dan dahi, muka, dagu melewati perineum. Setelah his istriadat sebentar, maka his akan mulai lagi untuk meneluarkan anggota badan bayi.

c.    Kala III (pelepasan uri)
Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengluaran uri (mochtar, 1998). Di mulai segera setelah bayi baru lahir samapi lahirnya plasenta ysng berlangsung tidak lebih dari 30 menit (saifudin, 2001) 
                  1)      Tanda dan gejala kala III
Menurut depkes RI (2004) tanda dan gejala kala III adalah : perubahan bentuk dan   tinggi fundus uteri, tali pusat memanjang, semburan darah tiba – tiba. 
2)      Fase – fase dalam pengluaran uri (kala III)
Menurut Mochtar (1998) fase – fase dalam pengluaran uri meliputa :
a)      Fase pelepasan uri
Cara lepasnya luri ada beberapa macam, yaitu :
(1)  Schultze : lepasnya seperti kita menutup payung , cara ini paling sering terjadi (80%). Yang lepas duluan adalah bagian tengah, kemudian seluruhnya.
(2)  Duncan : lepasnya uri mulai dari pinggir, uri  lahir akan mengalir keluar antara selaput ketuban pinggir plasenta.
b)      Fase pengeluaran uri
Persat – perasat untuk mengetahui lepasnya uri, antara lain :
(1)  Kustner, dengan meletakkan tangan disertai tekanan pada atas simfisis, tali pusat di tegangkan maka bila tali pusat masuk (belum lepas), jika diam atau maju ( sudah lepas).
(2)  Klein, saat ada his, rahim kita dorong sedikit, bila tali pusat kembali ( belum lepas), diam atau turun ( sudah lepas).
(3)  Strassman, tegangkan tali pusat dan ketok fundus bila tali pusat bergetar (belum lepas), tidak bergetar (sudah lepas), rahim menonjol di atas simfisis, tali pusat bertambah panjang, rahim bundar dank eras, keluar darah secara tiba – tiba.
d.    Kala IV ( obsevasi )
Menurut saifudin (2002), kala IV dimulai dari saat lahirnya plasena sampai 2 jam pertama post partum.
Observasi yang di lkukan pada kala IV adalah :
1)      Tingkatk kesadaran
2)      Pemeriksaan tanda – tanda vital, tekanan darah, nadi dan pernafasan
3)      Kontraksi uterus
4)      Perdarahan : dikatakan normal jika tidak melebihi 500 cc.

E.       Mekanisme Persalinan Normal
Menurut Manuaba (1999) gerakan – gerakan janin dalam persalinan adalah  sebagi berikut :
a.           Engagement ( masuknya kepala ) : kepala janin berfiksir pada pintu atas panggul.
           

                   





b.           Descent ( penurunan )
Penurunan di laksanakan oleh satu / lebih.
1)          Tekanan cairan amnion
2)          Tekanan langsung fundus pada bokong kontraksi otot abdomen.
3)          Ekstensi dan penelusuran badan janin.
4)          Kekuatan mengejan.
c.            Fleksion (fleksi)
Fleksi di sebabkan karena anak di dorong maju dan ada tekanan pada PAP, serviks, dinding panggul atau dasar panggul. Pada fleksi ukuran kepala yang melalui jalan lahir kecil, karena diameter fronto occopito di gantikan diameter sub occipito.
d.           Internal rotation ( rotasi dalam)
Pada waktu terjadi pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari janin memutar ke depan ke bawah simfisis ( UUK berputar ke depan sehingga dari dasar panggul UUK di bawah simfisis)
e.           Extensition ( ekstensi )
Ubun – ubun kecil (UUK) di bawah simfisis  maka sub occiput sebagai hipomoklion, kepala mengadakan gerakan defleksi ( ekstensi ).
f.            External rotation (rotasi luar)
Gerakan sesudah defleksi untuk menyesuaikan kedudukan kapala dengan punggung anak.

g.           Expulsion ( ekspusi ) : terjadi kelahiran bayi seluruhnya.

F.       Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan
Menurut mochtar ( 1998 ) faktor – fakor yang berperan dalam persalinan antara lain:
a.    Jalan lahir (passage)
1)         Jalan  lahir di bagi atas :
a)      Bagian keras tulang – tulang panggul ( rangka panggul ).
b)      Bagian lunak panggul.
2)         Anatomi jalan lahir
a)      Jalan lahir keras : pelvis/panggul
Terdiri dari 4 buah tulang, yaitu :
(1)   Os.coxae, terdiri dari : os. Illium, os. Ischium, os.pubis
(2)   Os.sacrum : promontorium
(3)   Os.coccygis.
Tulang panggul di pisahkan oleh pintu atas panggul menjadi 2 bagian :
(1)    Pelvis major : bagian di atas pintu atas panggul dan tidak berkaitan dengan persalinan.
(2)    Pelvis minor : menyerupai suatu saluran yang menyerupai sumbu melengkung ke depan.
b)   Jalan lahir lunak : segmen bawah rahim, serviks, vagina, introitus vagina, dan vagina, muskulus dan ligamentum yang menyelubungi dinding dalam dan bawah panggul.
3)         Bidang – bidang Hodge
Adalah bidang semu sebagai pedoman untuk menentukan kemajuan persalinan, yaitu seberapa jauh penurunan kepala melalui pemeriksaan dalam.
Bidang hodge :
Ø  Hodge I : promontorium pinggir atas simfisis
Ø  Hodge II                : hodge I sejajar pinggir bawah simfisis
Ø  Hodge III              : hodge I sejajar ischiadika
Ø  Hodge IV              : hodge I sejajar ujung coccygeus
Ukuran – ukuran panggul :
Ø Distansia spinarium (24 – 26 cm)
Ø Distansia cristarium (28 – 30 cm)
Ø Conjugate externa (18 – 20 cm)
Ø Lingkar panggul (80-90 cm)
Ø Conjugate diagonalis (12,5 cm)
b.   Passenger ( janin dan plasenta )
1)      Janin 
Persalinan normal terjadi bila kondisi janin adalah letak bujur, presentasi belakang kepala, sikap fleksi dan tafsiran berat janin <4000 gram.
2)      Plasenta
Plasenta berada di segmen atas rahim (tidak menhalangi jalan rahim). Dengan tuanya plasenta pada kehamilan yang bertambah tua maka menyebabkan turunya kadar estrogen dan progesterone sehinga menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi.
c.    Power (kekuatan)
        Yaitu faktor kekuatan ibu yang mendorong janin keluar dalam persalinan terdiri dari :
1)     His (kontraksi otot rahim)
His yang normal mempunyai sifat :
Ø  Kontraksi dimulai dari salah satu tanduk rahim.
Ø  Fundal dominan, menjalar ke seluruh otot rahim.
Ø  Kekuatannya seperti memeras isi rahim dan otot rahim yang berkontraksi tidak kembali ke panjang semula sehinnga terjadi refleksi dan pembentukan segmen bawah rahim.
2)     Kontraksi otot dinding perut.
3)     Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
4)     Ketegangan dan kontraksi ligamentum.

G.     Perubahan – Perubahan Fisiologis Dalam Persalinan
Menurut pusdiknakes 2003, perubahan fisiologis dalam persalinan meliputi :


a.       Tekanan darah
Tekanan darah meningkat selama kontraksi uterus dengan kenaikan sistolik rata – rata 10 – 20 mmHg dan kenaikan diastolic rata – rata 5-10 mmHg. Diantara kontraksi uterus, tekanan darah kembali normal pada level sebelum persalinan. Rasa sakit, takut dan cemas juga akan meningkatkan tekanan darah.

b.      Metabolisme
Selama persalinan metabolisme karbohidrat aerobik maupun metabolisme anaerobik akan naik secara berangsur disebabkan karena kecemasan serta aktifitas otot skeletal. Peningkatan inni ditandai dengan kenaikan suhu badan, denyut nadi, pernafasan, kardiak output, dan kehilangan cairan.    
c.       Suhu badan
Suhu badan akan sedikit meningkat selam persalinan, terutama selam persalinan dan segera setelah kelahiran. Kenaikan suhu di anggap normal jika tidak melebihi 0.5 – 1 ˚C.
d.      Denyut jantung
                Berhubungan dengan peningkatan metabolisme, detak jantung secara dramatis naik selama   kontraksi. Antara kontraksi, detak jantung  sedikit meningkat di bandingkan sebelum persalinan.
e.      Pernafasan
Karena terjadi peningkatan metabolisme, maka terjadi peningkatan laju pernafasan yang di anggap normal. Hiperventilasi yang lama di anggap tidak normal dan bias menyebabkan alkalosis.
f.        Perubahan pada ginjal
Poliuri sering terjadi selama persalinan, mungkin di sebabkan oleh peningkatan filtrasi glomerulus dan peningkatan aliran plasma ginjal. Proteinuria yang sedikit di anggap biasa dalam persalinan.
g.       Perubahan gastrointestinal
Motilitas lambung dan absorpsi makan padat secara substansial berkurang banyak sekali selama persalinan. Selai itu, pengeluaran getah lambung berkurang, menyebabkan aktivitas pencernaan hamper berhenti, dan pengosongan lambung menjadi sangat lamban. Cairan tidak berpengaruh dan meninggalkan perut dalam tempo yang biasa. Mual atau muntah biasa terjadi samapai mencapai akhir kala I.
h.      Perubahan hematologi
                Hematologi meningkat sampai 1,2 garam/100 ml selama persalinan dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan sehari setelah pasca persalinan kecuali ada perdarahan post partum.

H.     Perubahan Psikologi Pada Ibu Bersalinan Menurut Varney (2006) :
a.       Pengalaman sebelumnya
Fokus wanita adalah pada dirinya sendiri dan fokus pada dirinya sendiri ini timbul ambivalensi mengenai kehamilan seiring usahanya menghadapi pengalaman yang buruk yang pernah ia alami sebelumnya, efek kehamilan terhadap kehidupannya kelak, tanggung jawab ,yang baru atau tambahan yang akan di tanggungnya, kecemasan yang berhubungan dengan kemampuannya untuk nenjadi seorang ibu.
b.      Kesiapan emosi
Tingkat emosi pada ibu bersalin cenderung kurang bias terkendali yang di akibatkan oleh perubahan – perubahan yang terjadi pada dirinya sendiri serta pengaruh dari orang – orang terdekatnya, ibu bersalin biasanya lebih sensitive terhadap semua hal. Untuk dapat lebih tenang dan terkendali biasanya lebih sering bersosialisasi dengan sesame ibu – ibu hamil lainnya untuk saling tukar pengalaman dan pendapat.
c.       Persiapan menghadapi persalinan ( fisik, mental,materi dsb)
Biasanya ibu bersalin cenderung mengalami kekhawatiran menghadapi persalinan, antara lain dari segi materi apakah sudah siap untuk menghadapi kebutuhan dan penambahan tanggung jawab yang baru dengan adnya calon bayi yang akan lahir. Dari segi fisik dan mental yang berhubungan dengan risiko keselamtan ibu itu sendiri maupun bayi yang di kandungnya.
d.      Support system
Peran serta orang – orang terdekat dan di cintai sangat besar pengaruhnya terhadap psikologi ibu bersalin biasanya sangat akan membutuhkan dorongan dan kasih sayang yang lebih dari seseorang yang di cintai untuk membantu kelancaran dan jiwa ibu itu sendiri.
KARAKTERISTIK PERSALINAN NORMAL
Stadium persalinan dibagi menjadi 3 :
    1. Persalinan kala I : mulai saat inpartu sampai dilatasi lengkap
    2. Persalinan kala II : mulai dilatasi lengkap sampai janin lahir
    3. Persalinan kala III : Kala pengeluaran plasenta
    4. [Persalinan kala IV : 2 jam pasca persalinan
clip_image002
Gambar Kurve persalinan normal dan posisi kepala janin
Gerakan-gerakan utama dari mekanisme persalinan adalah sebagai berikut:
1.      Penurunan Kepala.
2.      Fleksi kepala.
3.      Putaran paksi dalam (PPD)
4.      Ekstensi atau defleksi kepala.
5.      Putaran faksi luar (PPL).
6.      Ekspulsi.

1)      Penurunan kepala
Pada primgravida masuknya kepala kedalam pintu atas panggul (PAP) biasanya sudah terjadi pada bulan terakhir dari kehamilan, tetapi pda multigravida biasanya baru terjadi pada permulaan persalinan.
Masuknya kepala ke dalam PAP,  biasanya dengan sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan. Masuknya kepala melewati pintu atas panggul (PAP), dapat dalam keadaan sinklitismus yaitu bila sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah jalan lahir, tepat diantara simfisis dan promotorium.
Pada sinklitismus os pariental depan dan belakang sama tingginya, Jika sutura sagitalis agak ke depan mendekati  simfisis atau agak ke belakang mendekati promotorium, maka dikatakan kepala dalam keadaan asinklitismus.
Ada 2 jenis anklitismus:
1.      Asinklitismus posterior: bila sutura sagitalis mendekai simfisis dan os pariental belakang lebih rendah dari os pariental belakang.
2.      Asinklitismus anterior: bila sutura sagitalis mendekati promotorium sehingga os pariental depan lebih rendah dari os pariental belakang.
Derajat sedang asinklitismus pasti terjadi pada persalinan normal, tetapi jika berat, gerakan ini dapat menimbulkan disproporsi sefalopelvik dengan panggul yang berukuran normal sekalipun.
Penurunan kepala lebih lanjut terjadi pada kala I dan kala II persalinan. Hal ini disebabkan karena adanya kontraksi dan retraksi dari segmen atas rahim, yang menyebabkan tekanan langsung fundus pada bokong janin. Dalam waktu yang bersamaan terjadi  relaksasi dari segmen bawah rahim sehingga terjadi penipisan dan dilatasi serviks. Keadaan ini juga menyebabkan bayi terdorong ke dalam jalan lahir.
Turunnya kepala ke dalam panggul, disebabkan oleh hal-hal berikut ini.
1.      Tekanan cairan intra uterin.
2.      Tekanan langsung fundus uteri pada bokong.
3.      Kekuatan mengejan.
4.      Melurusnya badan fundus.


2)      Fleksi Kepala
Pada awal persalinan, kepala bayi dalam keadaan fleksi yang ringan. Dengan majunya kepala biasanya fleksi juga bertambah. Pada pergerakan ini dagu dibawa lebihdekat ke arah dada janin sehingga UUK  lebih rendah dari UUB. Hal ni disebabkan karena adanya tahnan dar dinding serviks, dinding pelvs dan lanta pelvis. Dengan adanya fleksi , diameter suboccipito bregmatika 9,5 cm menggantikan diameter suboccipito prontalis (11 cm). Sampai didasar panggul, biassanya kepala janin berada dalam keadaan fleksi maksimal.
Ada beberapa teori yang menjelaskan mengapa fleksi dapat terjadi. Fleksi ini disebabkan karena anak didorong maju dan sebaliknya mendapat tahanan dari serviks, dinding panggul atau dasar panggul. Akibat dari keadaan ini terjadilah fleksi. terjadinya fleksi kepala karen kepala mendapt tahanan dar serviks uteri, dinding panggul dan dasar panggul.

3)      Putaran paksi dalam
 Puaran paksi dalam adalah pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan janin memutar  ke depan ke bawah simfisis. Pada presentasi belakang kepala bagian yang terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah yang akan memutar ke depan ke arah simfisis.
Rotasi dalam pentng untuk menyelesaikan persalinan, karena rotasi dalam merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir khususnya bidang tengah dan pintu bawah panggul.

1.      Pemutaran bagan terbawah dar bagian depan fetus ke depan ke arah simfisis pubis, meskipun jarang kebelakang ke arah sakrum.
2.      Suatu usaha menyesuaikan dr dari posisi kepala dengan bentuk jalan lahr, khusus nya PTP dan PBP.
4)      Ekstensi kepala
Sesudah kepala janin sampa di dasar panggul dan ubun-ubun kecil berada di bawah simfisis, maka terjadilah ekstensi dari kepala janin. Hal ini disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan dan ke atas sehingga kepala harus mengadakan fleksi untuk melewatinya. Jika kepala yang berada dalam keadaan fleksi penuh pada waktu mencapai dasar panggul tidak melakukan ekstensi, maka kepala akan tertekan pada perineum dan dapat menembusnya.
Suboksiput yang tertahan pada pinggir bawah simfisis akan menjadi pusat pemutaran (hypomochlion), maka lahirlah berturut-turut pada pinggir atas perineum : UUB, dahi, hidung, mulut dan dagu bayi dengan gerakan ekstensi.
Pada dasar panggul, kepala mengadakan ekstensi/ defleksi, supaya kepala dapat melalu pintu bawah panggul.
Ekstensi kepala terjad sebagai resultan antara dua kekuatan yaitu sebagai berikut:
·         Kekuatan uterus yang mendesak kepala lebih ke arah belakang
·         Tekanan dasar panggul yang menolak kepala lebih ke depan.
5)      Putaran Paksi Dalam
                Kepala yang sudah lahir selanjutnya mengalam restitusi yaitu kepala bayi memutar kearah punggung anak untuk menghlangkan torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam. Bahu melintasi pintu dalam keadaan miring, di dalam rongga panggul, bahu akan menyesuaikan diri denga bentuk panggul yang dilaluinya sehingga di dasar panggal setelah kepala bayi lhir, bahu mengalami putaran dalam dimana ukuran bahu (diameter bisa kromial) menempatkan diri dalam diameter anteroposterior dar pintu bawah panggul (PBP). Bersamaan dengan itu, kepala bayi juga melanjutkan putaran hingga belakang kepala berhadapan dengan tuber iskiadikum sepihak.

6)      Ekspulsi
Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai dibawah simfisis dan menjad hipomoklion untuk kelahiran bahu belakang. Setelah kedua bahu lahir, selanjutnya selurh badan bayi dilahirkan searah sumbu jalan lahir.
Dengan kontraksi yang efektif, fleksi kepala yang edekuat, dan janin dengan ukuran yang rata-rata, sebagian besarr oksiput yang posisinya posterior berputar cepat segera setelah mencapai dasar panggul sehingga persalnan tidak begitu bertambah panjang. Akan tetapi, pada kra-kira 5-10 % kasus, keadaan yang menguntungkan ini tidak terjadi sempurna atau mungkin tidak terjadi sama sekali, khususnya kalau janin besar.

Gambar-gambar mekanisme persalinan
 
Gambar. Mekanisme persalinan

DAFTAR PUSTAKA

Marisah, dkk. 2011.Asuhan Kebidanan pada Masa Persalinan.Jakarta:Salemba Medika.
Sulistyawati Ari,S. dan Esti Nugraheny,SST.2010.Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin.    Jakarta: Penerbit Salemba Medika
DEPKES-RI.2012.Asuhan Persalinan Normal. Jakarta:JNPK-KR.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar