Fokus asuhan
persalinan normal adalah persalinan bersih dan aman, serta mencegah terjadinya
komplikasi. Hal ini merupakan pergeseran paradigma dari menunggu terjadinya dan
kemudian menangani komplikasi, menjadi pencegah komplikasi. Persalinan bersih
dan aman serta pencegahan komplikasi selama dan pascapersalinan terbukti mampu
mengurangi kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.
Paradigma baru (aktif) yang
disebutkan sebelumnya, terbukti dapat mencegah atau mengurangi komplikasi yang
sering terjadi. Hal ini memberi manfaat yang nyata dan mampu membantu penurunan
angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Oleh karena sebagian besar persalinan
di Indonesia terjadi di desa atau di fasilitas pelayanan kesehatan dasar di
mana tingkat keterampilan petugas dan sarana kesehatan sangat terbatas, maka
paradigma aktif menjadi sangat strategis bila dapat diterapkan pada tingkat
terssebut. Jika semua penolong persalinan dilatih untuk melakukan upaya
pencegahan atau deteksi dini secara aktif terhadap berbagai komplikasi yang
mungkin terjadi, memberikan pertolongan secara adekuat dan tepat waktu, serta
melakukan upaya rujukan segera dimana ibu masih dalam kondisi yang optimal,
maka semua upaya tersebut terdapat secara bermakna menurunkan jumlah kesakitan
atau kematian ibu dan bayi baru lahir.
Tujuan dari asuhan persalinan
normal itu sendiri adalah menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat
kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinaya melalui upaya yang diintegrasi dan
lengkap, tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan
dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (optimal).
Dengan pendekatan ini dapat diartikan bahwa setiap intervensi yang akan
diaplikasikan dalam asuhan persalinan normal harus mempunyai alasan dan bukti
ilmiah yang kuat tentang manfaat intervensi tersebut bagi kemajuan dalam proses
persalinan.
Persalinan kala II dimulai
dengan pembukaan lengkap dari serviks dan berakhir dengan lahirnya bayi.
Tanda-tanda bahwa persalinan sudah dekat adalah sebagai berikut.
1.
Ibu merasa ingin meneran.
2.
Perineum tampak menonjol.
3.
Ibu kemungkinan ingin buang air besar.
4.
Vulva vagina dan sfingter ani membuka.
5.
Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat.
Tanda
pasti kala II ditentukan dari periksa dalam( informasi objektif) yang hasinya
adalah pembukaan serviks lengkap atau terlihatnya bagian kepala bayi melalui
introitus vagina. Selain itu, tanda-tanda subyektif, ibu sudah ingin meneran
juga harus diperhatikan . jika ibu sudah merasakan dorongan yang kuat untuk
meneran, bidan harus tanggap bahwa mungkin dorongan itu merupakan suatu
pertanda bahwa akan dimulainya proses persalinan.
A.
Pengertian
a.
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke dalam
jalan lahir (Saifudin, abdul bari.2002)
b.
Persalinan adalah proses pengluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam
uterus melelui vagina ke dunia luar (Wiknjosastro, 2006)
c.
Persalinan normal adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan ibu
sendiri, tanpa bantuan alat – alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang
umumnya berlangsung kurang dari 24 jam (mochtar, rustam.1998)
Sebab terjadinya persalinan sampai kini masih merupakan teori – teori yang kompleks.
Faktor – faktor humoral, pengaruh prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi
uterus, pengaruh syaraf dan nutrisi di sebut sebagai faktor – faktor yang
mengakibatkan persalinan mulai.
a.
Teori penurunan
hormon
Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron yang terjadi
kira – kira 1 – 2 minggu sebelum partus
dimulai. Progesterone bekerja sebagai penenang bagi otot – otot uterus dan akan
menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar
progesterone turun.
b.
Teori plasenta menjadi tua
Villi korialis mengalami perubahan – perubahan, sehingga
kadar estrogen dan progesterone menurun yang menyebabkan kekejangan pembuluh
darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
c.
Teori berkurangnya
nutrisi pada janin
Jika nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan
segera di keluarkan.
d.
Teori distensi rahim
Keadaan uterus yang terus menerus membesar dan menjadi
tegang mengakibatkan iskemia otot – otot uterus. Hal ini mungkin merupakan
faktor yang dapat menggangu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta menjadi
degenerasi.
e.
Teori iritasi mekanik
Tekanan pada ganglio
servikale dari pleksus frankenhauser
yang terletak di belakang serviks. Bila ganglion ini tertekan, kontraksi uterus
akan timbul.
f.
Induksi partus (induction of labour)
Partus dapat di timbulkan
dengan jalan :
1)
Gagang laminaria :
beberapa laminaria di masukkan dalam kanalis servikalis dengan tujuan
merangsang pleksus frankenhauser.
2)
Amniotomi : pemecahan
ketuban.
3)
Oksitosin drips :
pemberian oksitosin menurut tetesan infuse.
a. Tanda – tanda permulaan persalinan
Menurut
Manuaba (1998), tanda – tanda permulaan peralinan :
1)
Lightening atau settling atau dropping Yaitu kepala
turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara
tidak begitu kentara.
2)
Perut kelihatan lebih
melebar, fundus uterus turun.
3)
Perasaan sering-sering
atau susah kencing (polakisuria)
karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
4)
Perasaan sakit di
perut dan di pegang oleh adanya kontraksi. Kontraksi lemah di uterus, kadang –
kadag di sebut “ traise labor pains”.
5)
Serviks menjadi
lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah juga bercampur darah (bloody show)
6)
Tanda – tanda
inpartu.
Menurut Mochtar (1998), tanda – tanda inpartu :
1)
Rasa sakit oleh
adanya his yang dating lebih kuat, sering dan teratur.
2)
Keluar lender
bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada
serviks.
3)
Kadang – kadang
ketuban pecah dengan sendirinya.
4)
Pada pemeriksaan
dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada.
Menurut
azwar (2004), persalinan kala I adalah pembukaan yang berlangsung antara pembukaan
nol sampai pembukaan lengkap.
Dengan ditandai dengan :
1)
Penipisan dan
pembukaan serviks.
2)
Kontraksi uterus yang
mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimalm2 kali dalam 10 menit).
3)
Keluarnya lendir
bercampur darah.
Menurut
wiknjosasto, kala pembukaan di bagi atas 2 fase yaitu :
1)
Fase laten
Pembukaan
serviks berlangsung lambat, di mulai dari pembukaan 0 sampai pembukaan 3 cm,
berlangsung kira – kira 8 jam.
2)
Fase aktif
Dari
pembukaan 3 cm sampai pembukaan 10 cm, belangsung kira – kira 7 cm.
Di bagi atas :
a)
Fase akselerasi :
dalam waktu 2 jam, pembukaan 3 cm menjadi 4.
b)
Fase dilatasi
maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat, dari pembukaan
4 cm menjadi 9 cm
c)
Fase deselarasi :
berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam pembukaan jadi 10 cm.
Kontraksi menjadi lebih kuat dan sering pada fase
aktif. Keadaan tersebut dapat dijumpai pada primigravida maupun multigravida,
tetapi pada multigravida fase laten, fase aktif das fase deselerasi terjadi
lebih pendek.
(1)
Primigravida
Osteum uteri internum akan membuka
terlebih dahulu sehingga serviks akan mendatar dan menipis. Keadaan osteum
uteri eksternal membuka, berlangsung kira – kira 13 – 14 jam.
(2)
Multigravida
Osteu uteri internum sudah membuka
sedikit sehingga osteum uteri internum dan eksternum serta penipisan dan
pendataran serviks terjadi dalam waktu yang bersama.
b.
Kala II (pengluaran)
Menurut winkjosastro (2002), di mulai
dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Pada primigravida berlangsung
2 jam dan pada multigravida berlangsung 1 jam.
Pada kala pengluaran, his terkoordinir,
kuat, cepat dan lebih lama, kira – kira 2 -3 menit sekali. Kepala janin telah
turun masuk ruang panggul sehingga terjadi tekanan pada otot – otot dasar
panggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Karena tekanan pada
rectum, ibu merasa seperti mau buang air bersih, dengan tanda anus terbuka.
Pada waktu his, kepala janin mulai
kelihatan, vulva membuka dan perineum meregang. Dengan his mengedan maksimal
kepala janin di lahirkan dengan suboksiput di bawah simpisis dan dahi, muka,
dagu melewati perineum. Setelah his istriadat sebentar, maka his akan mulai
lagi untuk meneluarkan anggota badan bayi.
c. Kala III
(pelepasan uri)
Kala III adalah waktu
untuk pelepasan dan pengluaran uri (mochtar, 1998). Di mulai segera setelah
bayi baru lahir samapi lahirnya plasenta ysng berlangsung tidak lebih dari 30
menit (saifudin, 2001)
1) Tanda dan gejala kala III
Menurut depkes RI
(2004) tanda dan gejala kala III adalah : perubahan bentuk dan tinggi fundus uteri, tali pusat memanjang,
semburan darah tiba – tiba.
2) Fase – fase dalam
pengluaran uri (kala III)
Menurut Mochtar (1998) fase – fase
dalam pengluaran uri meliputa :
a)
Fase pelepasan uri
Cara lepasnya luri ada beberapa macam,
yaitu :
(1) Schultze
: lepasnya seperti kita menutup payung , cara ini paling sering terjadi (80%).
Yang lepas duluan adalah bagian tengah, kemudian seluruhnya.
(2) Duncan
: lepasnya uri mulai dari pinggir, uri
lahir akan mengalir keluar antara selaput ketuban pinggir plasenta.
b)
Fase pengeluaran uri
Persat – perasat untuk mengetahui
lepasnya uri, antara lain :
(1) Kustner,
dengan meletakkan tangan disertai tekanan pada atas simfisis, tali pusat di
tegangkan maka bila tali pusat masuk (belum lepas), jika diam atau maju ( sudah
lepas).
(2) Klein,
saat ada his, rahim kita dorong sedikit, bila tali pusat kembali ( belum
lepas), diam atau turun ( sudah lepas).
(3) Strassman,
tegangkan tali pusat dan ketok fundus bila tali pusat bergetar (belum lepas),
tidak bergetar (sudah lepas), rahim menonjol di atas simfisis, tali pusat
bertambah panjang, rahim bundar dank eras, keluar darah secara tiba – tiba.
d. Kala IV ( obsevasi )
Menurut saifudin
(2002), kala IV dimulai dari saat lahirnya plasena sampai 2 jam pertama post
partum.
Observasi yang di
lkukan pada kala IV adalah :
1)
Tingkatk kesadaran
2)
Pemeriksaan tanda – tanda vital, tekanan darah, nadi dan pernafasan
3)
Kontraksi uterus
4)
Perdarahan : dikatakan normal jika tidak melebihi 500 cc.
a.
Engagement ( masuknya
kepala ) : kepala janin berfiksir pada pintu atas panggul.


b.
Descent ( penurunan )
Penurunan di laksanakan oleh satu /
lebih.
1)
Tekanan cairan amnion
2)
Tekanan langsung
fundus pada bokong kontraksi otot abdomen.
3)
Ekstensi dan
penelusuran badan janin.
4)
Kekuatan mengejan.
c.
Fleksion (fleksi)
Fleksi di sebabkan karena anak di
dorong maju dan ada tekanan pada PAP, serviks, dinding panggul atau dasar
panggul. Pada fleksi ukuran kepala yang melalui jalan lahir kecil, karena
diameter fronto occopito di gantikan diameter sub occipito.
d.
Internal rotation (
rotasi dalam)
Pada waktu terjadi pemutaran dari
bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari janin memutar ke
depan ke bawah simfisis ( UUK berputar ke depan sehingga dari dasar panggul UUK
di bawah simfisis)
e.
Extensition (
ekstensi )
Ubun – ubun kecil (UUK) di bawah
simfisis maka sub occiput sebagai
hipomoklion, kepala mengadakan gerakan defleksi ( ekstensi ).
f.
External rotation
(rotasi luar)
Gerakan sesudah defleksi untuk
menyesuaikan kedudukan kapala dengan punggung anak.

g.
Expulsion ( ekspusi )
: terjadi kelahiran bayi seluruhnya.
a. Jalan lahir
(passage)
1)
Jalan lahir di bagi atas :
a)
Bagian keras tulang –
tulang panggul ( rangka panggul ).
b)
Bagian lunak panggul.
2)
Anatomi jalan lahir
a)
Jalan lahir keras :
pelvis/panggul
Terdiri dari 4 buah
tulang, yaitu :
(1)
Os.coxae, terdiri dari : os. Illium, os. Ischium, os.pubis
(2)
Os.sacrum : promontorium
(3)
Os.coccygis.
Tulang panggul di pisahkan oleh pintu
atas panggul menjadi 2 bagian :
(2)
Pelvis minor :
menyerupai suatu saluran yang menyerupai sumbu melengkung ke depan.
b) Jalan
lahir lunak : segmen bawah rahim, serviks, vagina, introitus vagina, dan
vagina, muskulus dan ligamentum yang menyelubungi dinding dalam dan bawah
panggul.
Adalah bidang semu sebagai pedoman untuk menentukan kemajuan persalinan, yaitu seberapa jauh penurunan kepala melalui pemeriksaan
dalam.
Bidang hodge :
Ø
Hodge I : promontorium pinggir atas
simfisis
Ø
Hodge II : hodge I sejajar
pinggir bawah simfisis
Ø
Hodge III : hodge I sejajar
ischiadika
Ø
Hodge IV : hodge I sejajar
ujung coccygeus
Ukuran – ukuran panggul :
Ø Distansia spinarium (24 – 26 cm)
Ø Distansia cristarium (28 – 30 cm)
Ø Conjugate externa (18 – 20 cm)
Ø Lingkar panggul (80-90 cm)
Ø Conjugate diagonalis (12,5 cm)
b. Passenger ( janin dan
plasenta )
1)
Janin
Persalinan normal terjadi bila kondisi janin adalah letak bujur,
presentasi belakang kepala, sikap fleksi dan tafsiran berat janin <4000
gram.
2)
Plasenta
Plasenta berada di segmen atas rahim (tidak menhalangi jalan
rahim). Dengan tuanya plasenta pada kehamilan yang bertambah tua maka menyebabkan turunya kadar estrogen
dan progesterone sehinga menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan
menimbulkan kontraksi.
c. Power (kekuatan)
1) His (kontraksi otot rahim)
His yang normal mempunyai sifat :
Ø
Kontraksi dimulai dari salah satu tanduk rahim.
Ø
Fundal dominan, menjalar ke seluruh otot rahim.
Ø
Kekuatannya seperti memeras isi rahim dan otot rahim yang berkontraksi tidak
kembali ke panjang semula sehinnga terjadi refleksi dan pembentukan segmen
bawah rahim.
2) Kontraksi otot dinding
perut.
3) Kontraksi diafragma pelvis
atau kekuatan mengejan
4) Ketegangan dan kontraksi
ligamentum.
a.
Tekanan darah
Tekanan darah meningkat selama
kontraksi uterus dengan kenaikan sistolik rata – rata 10 – 20 mmHg dan kenaikan
diastolic rata – rata 5-10 mmHg. Diantara kontraksi uterus, tekanan darah
kembali normal pada level sebelum persalinan. Rasa sakit, takut dan cemas juga akan meningkatkan tekanan
darah.
b.
Metabolisme
Selama persalinan metabolisme karbohidrat aerobik maupun metabolisme
anaerobik akan naik secara berangsur disebabkan karena kecemasan serta
aktifitas otot skeletal. Peningkatan inni ditandai dengan kenaikan suhu badan,
denyut nadi, pernafasan, kardiak output, dan kehilangan cairan.
c.
Suhu badan
Suhu badan akan sedikit meningkat selam
persalinan, terutama selam persalinan dan segera setelah kelahiran. Kenaikan suhu di anggap
normal jika tidak melebihi 0.5 – 1 ˚C.
d.
Denyut jantung
Berhubungan
dengan peningkatan metabolisme, detak jantung secara dramatis naik
selama kontraksi. Antara kontraksi, detak jantung sedikit meningkat di bandingkan sebelum persalinan.
e.
Pernafasan
Karena terjadi peningkatan metabolisme,
maka terjadi peningkatan laju pernafasan yang di anggap normal. Hiperventilasi
yang lama di anggap tidak normal dan bias menyebabkan alkalosis.
f.
Perubahan pada ginjal
Poliuri sering terjadi selama persalinan, mungkin di sebabkan oleh peningkatan filtrasi glomerulus
dan peningkatan aliran plasma ginjal. Proteinuria yang sedikit di anggap biasa
dalam persalinan.
g.
Perubahan
gastrointestinal
Motilitas lambung dan absorpsi makan
padat secara substansial berkurang banyak sekali selama persalinan. Selai itu, pengeluaran getah lambung berkurang,
menyebabkan aktivitas pencernaan hamper berhenti, dan pengosongan lambung
menjadi sangat lamban. Cairan tidak berpengaruh dan meninggalkan perut dalam
tempo yang biasa. Mual atau muntah biasa terjadi samapai mencapai akhir kala I.
h.
Perubahan hematologi
Hematologi
meningkat sampai 1,2 garam/100 ml selama persalinan dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan sehari setelah pasca persalinan kecuali ada perdarahan post partum.
H. Perubahan Psikologi
Pada Ibu Bersalinan Menurut Varney (2006) :
a.
Pengalaman sebelumnya
Fokus wanita adalah pada dirinya
sendiri dan fokus pada dirinya sendiri ini timbul ambivalensi mengenai kehamilan seiring usahanya menghadapi pengalaman yang buruk yang
pernah ia alami sebelumnya, efek kehamilan terhadap kehidupannya kelak, tanggung jawab ,yang baru atau
tambahan yang akan di tanggungnya, kecemasan yang berhubungan dengan
kemampuannya untuk nenjadi seorang ibu.
b.
Kesiapan emosi
Tingkat emosi pada ibu bersalin
cenderung kurang bias terkendali yang di akibatkan oleh perubahan – perubahan
yang terjadi pada dirinya sendiri serta pengaruh dari orang – orang
terdekatnya, ibu bersalin biasanya lebih sensitive terhadap semua hal. Untuk
dapat lebih tenang dan terkendali biasanya lebih sering bersosialisasi dengan
sesame ibu – ibu hamil lainnya untuk saling tukar pengalaman dan pendapat.
Biasanya ibu bersalin cenderung
mengalami kekhawatiran menghadapi persalinan, antara lain dari segi materi apakah sudah siap untuk
menghadapi kebutuhan dan penambahan tanggung jawab yang baru dengan adnya calon
bayi yang akan lahir. Dari segi fisik dan mental yang berhubungan dengan risiko
keselamtan ibu itu sendiri maupun bayi yang di kandungnya.
d.
Support system
Peran serta orang – orang terdekat dan
di cintai sangat besar pengaruhnya terhadap psikologi ibu bersalin biasanya
sangat akan membutuhkan dorongan dan kasih sayang yang lebih dari seseorang
yang di cintai untuk membantu kelancaran dan jiwa ibu itu sendiri.
KARAKTERISTIK
PERSALINAN NORMAL
Stadium persalinan dibagi menjadi 3 :
- Persalinan kala I : mulai saat inpartu sampai dilatasi lengkap
- Persalinan kala II : mulai dilatasi lengkap sampai janin lahir
- Persalinan kala III : Kala pengeluaran plasenta
- [Persalinan kala IV : 2 jam pasca persalinan
Gambar Kurve persalinan normal dan
posisi kepala janin
Gerakan-gerakan utama dari mekanisme persalinan adalah sebagai
berikut:
1. Penurunan Kepala.
2. Fleksi kepala.
3. Putaran paksi dalam (PPD)
4. Ekstensi atau defleksi
kepala.
5. Putaran faksi luar (PPL).
6. Ekspulsi.
1)
Penurunan kepala
Pada
primgravida masuknya kepala kedalam pintu atas panggul (PAP) biasanya sudah
terjadi pada bulan terakhir dari kehamilan, tetapi pda multigravida biasanya
baru terjadi pada permulaan persalinan.
Masuknya
kepala ke dalam PAP, biasanya dengan
sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan. Masuknya kepala
melewati pintu atas panggul (PAP), dapat dalam keadaan sinklitismus yaitu bila
sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah jalan lahir, tepat diantara simfisis
dan promotorium.
Pada
sinklitismus os pariental depan dan belakang sama tingginya, Jika sutura
sagitalis agak ke depan mendekati
simfisis atau agak ke belakang mendekati promotorium, maka dikatakan
kepala dalam keadaan asinklitismus.
Ada 2 jenis
anklitismus:
1. Asinklitismus posterior: bila sutura
sagitalis mendekai simfisis dan os pariental belakang lebih rendah dari os
pariental belakang.
2. Asinklitismus anterior: bila sutura
sagitalis mendekati promotorium sehingga os pariental depan lebih rendah dari
os pariental belakang.
Derajat
sedang asinklitismus pasti terjadi pada persalinan normal, tetapi jika berat,
gerakan ini dapat menimbulkan disproporsi sefalopelvik dengan panggul yang
berukuran normal sekalipun.
Penurunan
kepala lebih lanjut terjadi pada kala I dan kala II persalinan. Hal ini
disebabkan karena adanya kontraksi dan retraksi dari segmen atas rahim, yang
menyebabkan tekanan langsung fundus pada bokong janin. Dalam waktu yang
bersamaan terjadi relaksasi dari segmen
bawah rahim sehingga terjadi penipisan dan dilatasi serviks. Keadaan ini juga
menyebabkan bayi terdorong ke dalam jalan lahir.
Turunnya kepala ke
dalam panggul, disebabkan oleh hal-hal berikut ini.
1. Tekanan cairan intra uterin.
2. Tekanan langsung fundus
uteri pada bokong.
3. Kekuatan mengejan.
4. Melurusnya badan fundus.
2)
Fleksi Kepala
Pada
awal persalinan, kepala bayi dalam keadaan fleksi yang ringan. Dengan majunya
kepala biasanya fleksi juga bertambah. Pada pergerakan ini dagu dibawa
lebihdekat ke arah dada janin sehingga UUK
lebih rendah dari UUB. Hal ni disebabkan karena adanya tahnan dar
dinding serviks, dinding pelvs dan lanta pelvis. Dengan adanya fleksi ,
diameter suboccipito bregmatika 9,5 cm menggantikan diameter suboccipito
prontalis (11 cm). Sampai didasar panggul, biassanya kepala janin berada dalam keadaan
fleksi maksimal.
Ada
beberapa teori yang menjelaskan mengapa fleksi dapat terjadi. Fleksi ini
disebabkan karena anak didorong maju dan sebaliknya mendapat tahanan dari
serviks, dinding panggul atau dasar panggul. Akibat dari keadaan ini terjadilah
fleksi. terjadinya fleksi kepala karen kepala mendapt tahanan dar serviks
uteri, dinding panggul dan dasar panggul.
3)
Putaran paksi dalam
Puaran paksi dalam adalah pemutaran dari
bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan janin
memutar ke depan ke bawah simfisis. Pada
presentasi belakang kepala bagian yang terendah ialah daerah ubun-ubun kecil
dan bagian inilah yang akan memutar ke depan ke arah simfisis.
Rotasi
dalam pentng untuk menyelesaikan persalinan, karena rotasi dalam merupakan
suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir
khususnya bidang tengah dan pintu bawah panggul.
1. Pemutaran bagan terbawah dar
bagian depan fetus ke depan ke arah simfisis pubis, meskipun jarang kebelakang
ke arah sakrum.
2. Suatu usaha menyesuaikan dr
dari posisi kepala dengan bentuk jalan lahr, khusus nya PTP dan PBP.
4)
Ekstensi kepala
Sesudah
kepala janin sampa di dasar panggul dan ubun-ubun kecil berada di bawah
simfisis, maka terjadilah ekstensi dari kepala janin. Hal ini disebabkan karena
sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan dan ke atas
sehingga kepala harus mengadakan fleksi untuk melewatinya. Jika kepala yang
berada dalam keadaan fleksi penuh pada waktu mencapai dasar panggul tidak
melakukan ekstensi, maka kepala akan tertekan pada perineum dan dapat
menembusnya.
Suboksiput
yang tertahan pada pinggir bawah simfisis akan menjadi pusat pemutaran
(hypomochlion), maka lahirlah berturut-turut pada pinggir atas perineum : UUB,
dahi, hidung, mulut dan dagu bayi dengan gerakan ekstensi.
Pada
dasar panggul, kepala mengadakan ekstensi/ defleksi, supaya kepala dapat melalu
pintu bawah panggul.
Ekstensi kepala terjad
sebagai resultan antara dua kekuatan yaitu sebagai berikut:
·
Kekuatan uterus yang
mendesak kepala lebih ke arah belakang
·
Tekanan dasar panggul
yang menolak kepala lebih ke depan.
5)
Putaran Paksi Dalam
Kepala yang sudah lahir
selanjutnya mengalam restitusi yaitu kepala bayi memutar kearah punggung anak
untuk menghlangkan torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam.
Bahu melintasi pintu dalam keadaan miring, di dalam rongga panggul, bahu akan
menyesuaikan diri denga bentuk panggul yang dilaluinya sehingga di dasar
panggal setelah kepala bayi lhir, bahu mengalami putaran dalam dimana ukuran
bahu (diameter bisa kromial) menempatkan diri dalam diameter anteroposterior
dar pintu bawah panggul (PBP). Bersamaan dengan itu, kepala bayi juga
melanjutkan putaran hingga belakang kepala berhadapan dengan tuber iskiadikum
sepihak.
6)
Ekspulsi
Setelah
putaran paksi luar, bahu depan sampai dibawah simfisis dan menjad hipomoklion
untuk kelahiran bahu belakang. Setelah kedua bahu lahir, selanjutnya selurh
badan bayi dilahirkan searah sumbu jalan lahir.
Dengan
kontraksi yang efektif, fleksi kepala yang edekuat, dan janin dengan ukuran
yang rata-rata, sebagian besarr oksiput yang posisinya posterior berputar cepat
segera setelah mencapai dasar panggul sehingga persalnan tidak begitu bertambah
panjang. Akan tetapi, pada kra-kira 5-10 % kasus, keadaan yang menguntungkan
ini tidak terjadi sempurna atau mungkin tidak terjadi sama sekali, khususnya
kalau janin besar.
Gambar-gambar mekanisme persalinan

Gambar. Mekanisme
persalinan
DAFTAR PUSTAKA
Marisah,
dkk. 2011.Asuhan Kebidanan pada Masa
Persalinan.Jakarta:Salemba Medika.
Sulistyawati
Ari,S. dan Esti Nugraheny,SST.2010.Asuhan
Kebidanan Pada Ibu Bersalin.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika
DEPKES-RI.2012.Asuhan Persalinan Normal.
Jakarta:JNPK-KR.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar