Selasa, 21 Januari 2014

TINJAUAN TEORI DOKUMENTASI ASUHAN KEBIDANAN PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN (DEPO PROGESTIN)



BAB I
TINJAUAN TEORI
DOKUMENTASI ASUHAN KEBIDANAN
PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN (DEPO PROGESTIN)

A.      Pengertian
     Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma.
     Di Indonesia sejak zaman dulu telah dipakai obat dan jamu yang maksudnya untuk mencegah kehamilan. Di Indonesia keluarga berencana moderen mulai dikenal pada tahun 1953. Pada waktu itu sekelompok ahli kesehatan, kebidanan, dan tokoh masyarakat telah mulai membantu masyarakat memecahkan masalah-masalah pertumbuhan penduduk.
     Secara ringkas, inovasi teknologi kontrasepsi dimulai dengan cara sederhana seperti kondom, pil KB, suntik, susuk dan akhirnya cara yang sangat mantap yaitu kontrasepsi pembedahan seperti tubektomi dan vasektomi.
     Misi Program KB Nasional salah satunya adalah meningkatkan kualitas pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi. Hasil studi pendahuluan di Jakarta terhadap 10 akseptor KB suntik, dimana 6 akseptor (60%) diantaranya tidak mengetahui tentang KB suntik, dan 4 (40%) diantaranya mengetahui tentang KB suntik. Ketepatan waktu suntik kembali sangat penting bagi akseptor KB suntik tersebut karena bila tidak tepat untuk suntik kembali maka dapat menyebabkan kehamilan.
     Program KB secara Nasional berkaitan erat dengan program Nasional di bidang kesehatan, karena program KB Nasional bersifat mendukung dan mempunyai sasaran serupa dengan program kesehatan. Program Keluarga Berencana Nasional memberikan arahan kebijakan untuk meningkatkan kualitas penduduk melalui pegendalian kelahiran, memperkecil angka kematian dan peningkatan kualitas program KB.
     Program Keluarga Berencana (KB) salah satunya KB suntik pada dasarnya kurang berhasil yang dipengaruhi oleh pendidikan, pekerjaan, tingkat pengetahuan ibu, sikap, jumlah anak, dukungan suami. Salah satu yang mempengaruhi kurangnya kepatuhan pemakaian KB suntik adalah tingkat pengetahuan ibu, sikap dan faktor pendukung lainnya, dimana sikap yang positif tentang KB diperlukan pengetahuan yang baik, demikian sebaliknya bila pengetahuan kurang maka kepatuhan menjalani program KB suntik juga akan berkurang.
     Keluarga Berencana menurut UU No. 10 th 1992 adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
     Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan melalui suntikan hormonal. Kontrasepsi hormonal jenis KB suntikan ini di Indonesia semakin banyak dipakai karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang praktis, harganya relatif murah dan aman. Sebelum disuntik, kesehatan ibu harus diperiksa dulu untuk memastikan kecocokannya. Suntikan diberikan saat ibu dalam keadaan tidak hamil. Umumnya pemakai suntikan KB mempunyai persyaratan sama dengan pemakai pil, begitu pula bagi orang yang tidak boleh memakai suntikan KB, termasuk penggunaan cara KB hormonal selama maksimal 5 tahun.
     Kotrasepsi suntik adalah alat kontasepsi yang disuntikan ke dalam tubuh dalam jangka waktu tertentu, kemudian masuk ke dalam pembuluh darah diserap sedikit demi sedikit oleh tubuh yang berguna untuk mencegah timbulnya kehamilan. Kontrasepsi suntik yang sering digunakan adalah Noretisteron Enentat, Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA), dan cyclofem. Salah satu kontrasepsi modern yang sering digunakan antara lain adalah DMPA yang berisi Depo Medroksi Progerteron Asetat sebanyak 150 mg dengan guna 3 bulan.
     Kontrasepsi suntikan progestin mencegah terjadinya kehamilan dengan cara disuntik intra muskuler yang berdaya kerja 3 bulan dan tidak membutuhkan pemakaian setiap hari atau setiap akan berhubungan seksual, mengandung hormon progesteron dan tidak mengganggu produksi ASI.
     Kontrasepsi suntik adalah alat kontrasepsi berupa cairan, yang hanya berisi hormone progesterone disuntikkan ke dalam tubuh wanita secara periodik.
           
B.       Jenis Kontrasepsi Suntik
Tersedia 2 jenis kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin, yaitu:
1.         Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA)
Mengandung 150mg DMPA yang diberikan tiap 3 bulan dengan cara disuntik Intra Muskuler (di daerah bokong). Depo provera atau depo metroxy progesterone asetat adalah satu sintesa progestin yang mempunyai efek seperti progesterone asli dari tubuh wanita. Obat ini dicoba pada tahun 1958 untuk mengobati abortus habitualis dan endometriosis ternyata pada pengobatan abortus habitualis seringkali terjadi kemandulan setelah kehamilan berakhir. Depo provera sebagai obat kontrasepsi suntikan ternyata cukup manjur dan aman dalam pelayanan keluarga berencana. Anggapan bahwa depo provera dapat menimbulkan kanker pada leher rahim atau payudara pada wanita yang mempergunakannya belum didapat bukti-bukti yang cukup tegas, bahkan sebaliknya.
2.         Depo Nonsterat Enontat (Depo Nonsterat)
Mengandung 200mg noratin dion anontat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik intra muskuler. Norigest adalah obat yang disuntikkan. (1 ampul Norigest berisi 200 mg Norethindore enenthate dalam larutan minyak. Larutannya merupakan campuran benzyl benzoate dan castor oil dalam perbandingan 4:6). Efek kontrasepsinya terutama mencegah masuknya sperma melalui lender cervix. Sesudah pengobatan dihentikan, keadaan fertilitas biasanya kembali dalam waktu beberapa minggu. Karena pada beberapa kasus mungkin akan terjadi flek, maka perlu diberitahukan terlebih dahulu kepada setiap calon akseptor akan kemungkinan hal ini.

C.      Cara Kerja
Secara umum kerja dari KB suntik adalah:
1.         Mencegah ovulasi, kadar progestin tinggi sehingga menghambat lonjakan luteinizing hormone (LH) secara efektif sehingga tidak terjadi ovulasi. Kadar follicle-stimulating hormone (FSH) dan LH menurun dan tidak terjadi lonjakan LH (LH Surge). Menghambat perkembangan folikel dan mencegah ovulasi. Progestogen menurunkan frekuensi pelepasan (FSH) dan (LH).
2.         Lendir serviks menjadi kental dan sedikit, mengalami penebalan mukus serviks yang mengganggu penetrasi sperma. Perubahan - perubahan siklus yang normal pada lendir serviks. Secret dari serviks tetap dalam keadaan di bawah pengaruh progesteron hingga menyulitkan penetrasi spermatozoa.
3.         Membuat endometrium menjadi kurang layak atau baik untuk implantasi dari ovum yang telah di buahi, yaitu mempengaruhi perubahan-perubahan menjelang stadium sekresi, yang diperlukan sebagai persiapan endometrium untuk memungkinkan nidasi dari ovum yang telah di buahi.
4.         Menghambat transportasi gamet dan tuba, mungkin mempengaruhi kecepatan transpor ovum di dalam tuba fallopi atau memberikan perubahan terhadap kecepatan transportasi ovum (telur) melalui tuba.

D.      Keuntungan
1.         Keberhasilan KB suntik 3 bulan 99,7 %
2.         Sangat efektif, karena mudah digunakan tidak memerlukan aksi sehari hari dalam penggunaan kontrasepsi suntik ini tidak banyak di pengaruhi kelalaian atau faktor lupa dan sangat praktis.
3.         Meningkatkan kuantitas air susu pada ibu yang menyusui, Hormon progesteron dapat meningkatkan kuantitas air susu ibu sehingga kontrasepsi suntik sangat cocok pada ibu menyusui. Konsentrasi hormon di dalam air susu ibu sangat kecil dan tidak di temukan adanya efek hormon pada pertumbuhan serta perkembangan bayi.
4.         Efek samping sangat kecil yaitu tidak mempunyai efek yang serius terhadap kesehatan.
5.         Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri.
6.         Sangat cocok pada wanita yang telah mempunyai cukup anak akan tetapi masih enggan atau tidak mau untuk dilakukan sterilisasi.
7.         Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai menopause.
8.         Membantu mencegah kehamilan ektopik dan kanker endometrium.

E.       Kekurangan
Dapat mengalami perdarahan bercak di luar siklus haid atau justru haid manjadi jarang. Setelah Anda berhenti menyuntik, mungkin butuh waktu beberapa bulan untuk kembali pada siklus biasa. Jarang terjadi perdarahan yang banyak, tidak dapat haid, perlu suntikan ulangan teratur, perlu control atau kunjungan berkala untuk evaluasi.

F.       Indikasi
Indikasi pemakaian kontrasepsi suntik antara lain: jika klien menghendaki pemakaian kontrasepsi jangka panjang, atau klien telah mempunyai cukup anak sesuai harapan, tapi saat ini belum siap. Kontrasepsi ini juga cocok untuk klien yang menghendaki tidak ingin menggunakan kontrasepsi setiap hari atau saat melakukan senggama, atau klien dengan kontra indikasi pemakaian estrogen, dan klien yang sedang menyusui. Klien yang mendekati masa menopause, atau sedang menunggu proses sterilisasi juga cocok menggunakan kontrasepsi suntik.
Indikasi pemakaian suntikan kombinasi :
1.         Usia reproduksi (20-30 tahun)
2.         Telah memiliki anak, ataupun yang belum memiliki anak
3.         Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektifitas yang tinggi
4.         Menyusui ASI pasca persalinan lebih dari 6 bulan
5.         Pasca persalian dan tidak menyusui
6.         Anemia
7.         Nyeri haid hebat
8.         Haid teratur
9.         Riwayat kehamilan ektopik
10.     Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi

G.      Kontra Indikasi
1.         Hamil atau dicurigai hamil (reaksi cacat pada janin > 100.000 kelahiran)
2.         Ibu menginginkan haid teratur
3.         Menyusui dibawah 6 minggu pasca persalinan
4.         Ibu yang menderita sakit kuning (liver),
5.         Kelainan jantung,
6.         Varises (urat kaki keluar),
7.         Hipertensi (tekanan darah tinggi)
8.         Kanker payudara atau organ reproduksi,
9.         Menderita kencing manis (DM). Selain itu, ibu yang merupakan perokok berat, sedang dalam persiapan operasi.
10.     Sakit kepala sebelah (migrain) merupakan kelainan-kelainan yang menjadi pantangan penggunaan KB suntik ini.
11.     Perdarahan saluram genital yang tidak terdiagnosis.
12.     Penyakit arteri berat di masa lalu atau saat ini
13.     Efek samping serius yang terjadi pada kontrasepsi oral kombinasi yang bukan disebabkan oleh estrogen
14.     Adanya penyakit kanker hati
15.     Depresi berat. (Everent,2007)

H.      Waktu Mulai Penggunaan:
1.         Waktu Mulai Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Progestin adalah sebagai berikut:
a.         Mulai hari pertama sampai hari ke 7 siklus haid.
b.        Pada ibu yang tidak haid, injeksi pertama dapat diberikan setiap saat, asalkan saja ibu tersebut tidak hamil. Selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual.
c.         Ibu yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin mengganti dengan kontrasepsi suntikan. Bila ibu telah menggunakan kontrasepsi hormonal sebelumnya secara benar, dan ibu tersebut tidak hamil, suntikan pertama dapat segera diberikan. Tidak perlu menunggu sampai haid berikutnya datang.
d.        Bila ibu sedang menggunakan jenis kontrasepsi jenis lain dan ingin menggantinya dengan jenis kontrasepsi suntikan yang lain lagi, kontrasepsi suntikan yang akan diberikan dimulai pada saat jadwal kontrasepsi suntikan sebelumnya.
e.         Ibu yang menggunakan kontrasepsi non hormonal dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi hormonal, suntikan pertama kontrasepsi hormonal yang akan diberikan dapat segera diberikan, asal saja ibu tersebut tidak hamil, dan pemberiannya tidak perlu menunggu haid berikutnya datang. Bila ibu disuntik setelah hari ke 7 haid, ibu tersebut selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual.
2.         Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari siklus haid. Tidak diperlukan kontrasepsi tambahan.
a.         Bila suntikan pertama diberikan setelah haid ke 7 siklus haid, tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan metode kontrasepsi yang lain selama masa waktu 7 hari.
b.         Bila Ibu tersebut pasca persalinan 6 bulan, menyusui, serta belum haid, suntikan pertama dapat diberikan, asal saja dapat dipastikan tidak hamil
c.         Bila pasca persalinan >6 bulan, menyusui, serta telah mendapat haid, maka suntikan pertama diberikan pada siklus haid hari 1 dan 7.
d.        Bila pasca persalinan <6 bulan dan menyusui, jangan diberikan suntikan kombinasi.
e.         Pasca keguguran suntikan suntikan kombinasi dapat segera diberikan atau dalam waktu 7 hari.
f.         Ibu yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin mengganti dengan kontrasepsi suntikan. Bila ibu telah menggunakan kontrasepsi hormonal sebelumnya secara benar, dan ibu tersebut tidak hamil, suntikan pertama dapat segera diberikan. Tidak perlu menunggu sampai haid berikutnya datang.
g.        Bila ibu sedang menggunakan jenis kontrasepsi jenis lain dan ingin menggantinya dengan jenis kontrasepsi suntikan yang lain lagi, kontrasepsi suntikan yang akan diberikan dimulai pada saat jadwal kontrasepsi suntikan sebelumnya. Ibu yang menggunakan kontrasepsi non hormonal dan ingin menggantinya.

I.         Cara Penggunaan
1.         Kontrasepsi suntik DMPA diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intromuskuler dalam di daerah pantat. Apabila suntik diberikan setiap 90 hari pemberian kontrasepsi suntikan nonsterat untuk 3 injeksi berikutnya diberikan setiap 8 minggu mulai dengan injeksi kelima diberikan setiap 12 minggu.
2.         Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas alkohol yang dibasahi oleh etil atau iso propil alkohol 60-90% biarkan kulit kering sebelum disuntik.
3.         Kocok dengan baik dan hindarkan terjadinya gelembung-gelembung udara, kontrasepsi tidak perlu di dinginkan. Bila terdapat endapan putih pada dasar vial, upayakan menghilangkannya dengan cara menghangatkannya.

J.        Efek Samping
1.         Gangguan haid seperti:
a.         Siklus haid yang memendek atau memanjang.
b.        Perdarahan yang banyak atau sedikit.
c.         Perdarahan tidak teratur atau bercak (spotting).
d.        Tidak haid sama sekali atau amenorhoe.
2.         Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus kembali untuk jadwal suntikan berikutnya).
3.         Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu,harus menunggu sampai masa efektifnya habis (3 bulan).
4.         Berat badan bertambah, umumnya pertambahan berat badan tidak terlalu besar, bervariasi antara kurang dari 1 kg sampai 5 kg dalam tahun pertama. Pertambahan berat badan tidak jelas. Tampaknya terjadi karena bertambahnya lemak tubuh. Hipotesa para ahli ini diakibatkan hormon merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan akseptor makan lebih banyak daripada biasanya.
5.         Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan IMS, hepatitis B dan virus HIV.
6.         Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian bukan karena terjadinya kerusakan atau kelainan pada organ genitalia, melainkan karena belum habisnya pelepasan obat suntikan dari deponya (tempat suntikan).
7.         Pada penggunaan jangka panjang yaitu diatas 3 tahun penggunaan dapat:
a.         Menurunkan kepadatan tulang.
b.        Menimbulkann kekeringan pada vagina.
c.         Menurunkan libido.
8.         Keluhan- keluhan lainnya berupa mual, muntah, sakit kepala, panas dingin, pegal-pegal, nyeri perut dan lain-lain.

K.      Yang Perlu Diwaspadai Akseptor
1.         Setiap terlambat haid harus dipikirkan adanya kemungkinan kehamilan
2.         Nyeri abdomen bawah yang berat, kemungkinan gejala kehamilan ektopik tergantung.
3.         Timbulnya abses atau perdarahan tempat injeksi.
4.         Sakit kepala, migrain, sakit kepala berulang yang berat/kaburnya penglihatan.
5.         Perdarahan berat yang 2x lebih panjang dari masa haid atau 2 kali lebih banyak dalam waktu 1 periode masa haid.









DAFTAR PUSTAKA


Handayani, Sri. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogya: Pustaka            Rihanna.
Prawirohardjo sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono          Prawirohardjo
Manuaba, I.A.C, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, Dan KB Untuk           Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.

ASUHAN KEBIDANAN NIFAS DAN MENYUSUI (DEMAM, MUNTAH, DAN NYERI BERKEMIH)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masa nifas adalah masa setelah partus sampai kurang lebih 6 minggu. Pada masa ini banyak sekali terjadi perubahan-perubahan pada diri klien. Perubahan-perubahan yang bertujuan pada pengembalian tubuh terutama alap reproduksi ke keadaan seperti sebelum hamil. Infeksi postpartum adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia, terjadi sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat selsius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama.
Kasus infeksi nifas sering terjadi. Namun akan sembuh dengan pengobatan yang benar dan baik. Menurut derajatnya, septikemia merupakan infeksi paling berat dengan mortalitas tinggi,diikuti peritonitis umum dan piemia. Infeksi post partum bila tidak diatasi dengan baik dan profesional sering mengalami kematian. Terutama bila sumber infeksi telah menjalar pada organ-organ vital. Dengan majunya ilmu keperawatan, mahasiswa keperawatan diharapkan mampu mengetahui asuhan keperawatan yang komprehensif yang dapat di manifestasikan dengan memberikan perawatan post partum untuk mencegah terjadinya infeksi dan komplikasi. Mahasiswa perawat juga diharapkan mampu dalam memberikan penyuluhan kesehatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan untuk membantu pasien mencapai kesehatan yang optimal.
Perubahan-perubahan yang terjadi tidak semua diketahui oleh wanita post pertum oleh karena itu adanya asuhan kebidanan diharapkan mampu membantu wanita menghadapi masa-masa pertama setelah melahirkan. Terlebih lagi saat ibu dan bayi dirawat dalam satu ruangan maka asuhan ini dapat memberikan pengalaman dan pengajaran merawat diri dan bayinya secara mandiri.


1
 
 
1.2. Tujuan Penulisan
A.        Tujuan Umum :
Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan pendekatan manajemen kebidanan.
B.   Tujuan Khusus :
1.        Melakukan pengkajian pada ibu nifas
2.        Mengidentifikasi masalah yang terjadi pada ibu nifas
3.        Mengantisipasi masalah potensia pada ibu nifas
4.        mengidentifikasi kebutuhan segera
5.        melakukan intervensi
6.        Melakukan implementasi
7.        Melakukan evaluasi

1.3.         Rumusan masalah
Kurangnya pengetahuan tentang deteksi dini komplikasi masa nifas dan penanganannya

1.4.         Manfaat
A. Dapat menambah ilmu.
B. Mengetahui komplikasi masa nifas dan penanganannya
2
 
C. Sebagai suatu acuan pembelajaran mahasiswa kebidanan
1.5.         Metode penulisan
Data penulisan makalah ini diperoleh dengan metode studi kepustakaan. Metode studi kepustakaan yaitu suatu metode dengan membaca telaah pustaka. Selain itu, tim penulis juga memperoleh data dari internet.


















3
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
2.1         Definisi

Demam nifas meliputi demam pada masa nifas oleh sebab apa pun. Menurut Joint Committee on Maternal Welfare, AS morbiditas puerperalis ialah kenaikan C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama post°suhu sampai 38 partum dengan mengecualikan hari pertama. Suhu diukur dari mulut sedikit-dikitnya 4 kali sehari.
Pada masa nifas dini sensitifitas kandung kemih terhadap tegangan air kemih di dalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan serta analgesia epidural atau spinal. Sensasi peregangan kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman, yang ditimbulkan oleh epiosomi yang lebar, laserasi, hematom dinding vagina.

2.2.       Etiologi
                 Bermacam-macam
1.    Eksasogen       : kuman datang dari luar.
2.    Autogen          : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh.
3.    Endogen          : dari jalan lahir sendiri.
Selain itu infeksi nifas dapat pula disebabkan oleh:
4
 
1.    Streptococcus haemolytieus aerobicus merupakan sebab infeksi yang paling berat, khususnya golongan A. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain, alat atau kain yang tidak steril, infeksi tenggorokan orang lain).
2.    Staphylococcus aerus menyebabkan infeksi terbatas, walaupun kadang-kadang menjadi infeksi umum. Banyak ditemukan di RS dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat.
3.    E. coli berasal dari kandung kemih atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva dan endometrium.
4.    Clostridium Welchii, bersifat anaerob. Jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. Infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis.
Cara terjadinya infeksi:
1.    Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain adalah sarung tangan atau alat- alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman.
2.    Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau yang membantunya.
3.    Hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin.
4.    Dalam RS banyak kuman-kuman patogen yang berasal dari penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara ke mana-mana antara lain ke handuk, kain-kain, alat-alat yang suci hama dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau nifas.
5.    Coitus pada akhir kehamilan bukan merupakan sebab yang paling penting kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.
6.    Infeksi intra partum. Biasanya terjadi pada partus lama, apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan periksa dalam.
5
 
7.    Gejala: kenaikan suhu disertai leukositosis dan tachikardi, denyut jantung janin meningkat, air ketuban menjadi keruh dan berbau.
8.    Prognosis infeksi intra partum sangat tergantung dari jenis kuman, lamanya infeksi berlangsung, dapat/tidaknya persalinan berlangsung tanpa banyak perlukaan jalan lahir.

2.3.     Patofisiologi
Setelah kala III, daerah bekas insertio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter kira-kira 4 cm, permukaan tidak rata, berbenjol-benjol karena banyaknya vena yang ditutupi trombus dan merupakan area yang baik untuk tumbuhnya kuman-kuman dan masuknya jenis-jenis yang patogen dalam tubuh wanita. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinanan, begitu juga vulva, vagina, perineum merupakan tempat masuknya kuman patogen. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat menyebar di luar luka asalnya.
Infeksi nifas dapat terbagi dalam 2 golongan :
1.  Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, seviks dan endometrium.
2. Penyebaran dari tempat-tempat melalui vena, jalan limfe dan melalui permukaan endometrium.
Infeksi pada Perineum, Vulva, Vagina, Serviks dan Endometrium
1. Vulvitis. Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitar membengkak, tepi luka menjadi merah dan bengkak, jahitan mudah terlepas, luka yang terbuka menjadi ulkus dan megeluarkan pus.
2. Vaginitis. Dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum, permukaan mokusa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus.
6
 
3. Sevicitis.Sering terjadi tapi tidak menimbulkan banyak gejala. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium.
4. Endometritis. Paling sering terjadi. Kuman–kuman memasuki endometrium (biasanya pada luka insertio plasenta) dalam waktu singkat dan menyebar ke seluruh endometrium. Pada infeksi setempat, radang terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama bekuan darah menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas keping-keping nekrotis dan cairan. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran. Penyebaran melalui pembuluh darah (Septikemia dan Piemia) Merupakan infeksi umum disebabkan oleh kuman patogen Streptococcus Hemolitikus Golongan A. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas. Penyebaran melalui jalan limfe. Peritonitis dan Parametritis (Sellulitis Pelvika) Penyebaran melalui permukaan endometrium. Salfingitis dan Ooforitis

2.4.       Faktor Predisposisi
1. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita, seperti perdarahan banyak, pre ekslampsi, infeksi lain seperti pneumonia, penyakit jantung dan sebagainya.
2. Partus lama terutama dengan ketuban pecah lama.
3. Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan jalan lahir.
4. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah.

2.5.       DIAGNOSA
Sistitis biasanya memberikan gejala berupa nyeri berkemih(disuria), sering berkemih, dan tak dapat menahan untuk berkemih. Demam biasanya jarang terjadi. Adanya retensi urine pasca persalinan umumnya merupakan tanda adanya infeksi.
7
 
Pielonefritis memberikan gejala yang lebih berat, demam, menggigil ,serta perasaan mual dan muntah. Selain disuria, dapat juga terjadi piuria dan hematuria.
2.6.      Komplikasi Demam, Muntah, dan Sakit Berkemih
Pelvis renalis dan ureter, yang meregang dan dilatasi selama kehamilan, kembali normal pada akhir minggu keempat pascapartum. Segera setelah pascapartum kandung kemih,edema, mengalami kongesti, dan hipotonik, yang dapat menyebabkan overdistensi, pengosongan yang tidak lengkap, dan residu urine yang berlebihan kecuali perawatan diberikan untuk memastikan berkemih secara periodik. Uretra jarang mengalami obstruksi, tetapi mungkin tidak dapat dihindari akibat persalinan lama dengan kepala janin dalam panggul.
Efek persalinan pada kandung kemih dan uretra menghilang dalam 24 jam pertama pascapartum, kecuali wanita mengalami infeksi seluruh saluran kemih. Sekitar 40 % wanita pascapartum tidak mengalami proteinuria nonpatologis sejak segera setelah melahirkan hingga hari kedua pascapartum. Spesimen urine harus berupa urine yang diambil bersih atau kateterisasi, karena kontaminasi lokia juga akan menghasilkan preeklamsia.
Diuresis mulai segera setelah melahirkan dan berakhir hingga hari kelima pascapartum. Produksi urine mungkin lebih dari 3000 ml per hari. Diuresis adalah rute utama tubuh untuk membuang kelebihan cairan intertisial dan kelebihan volume darah. Hal ini merupakan penjelasan terhadap perpirasi yang cukup banyak yang dapat terjadi selama hari – hari pertama pascapartum.

2.7.         Penanganan/penatalaksanaan
Antibiotik yang terpilih meliputi golongan nitrofurantoin, sulfonamit, trimetoprim, mikrobakterial terhadap golongan penicillin.
Pielonefritis membutuhkan penanganan yang lebih awal, pemberian dosis awal antibiotic yang tinggi secara intravena, misalnya sefalosforin 3-6 gram/hari dengan atau tanpa aminoglikosida. Sebaliknya juga dilakukan kultur urine.


8
 
 
2.8.       TANDA DAN GEJALA
Beberapa tanda khusus untuk setiap infeksi adalah:
1.         Endometritis
a. Tergantung pada jenis virulensi kuman, daya tahan penderita dan derajat trauma pada jalan lahir.
b.Biasanya demam mulai 48 jam pertama post partum bersifat naik turun.
c. Lokia bertambah banyak, berwarna merah atau coklat dan berbau.
d. Kadang-kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah, sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut Lokiometra.
e.Uterus agak membesar, nyeri pada perabaan dan lembek.

2.         Septikemia dan Piemia
a. Septikemia adalah keadaan dimana kuman-kuman atau toxinnya langsung masuk ke dalam peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum.
b.Piemia dimulai dengan tromboplebitis vena-vena daerah perlukaan lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil dibawa keperadaran darah umum dan terjadilah infeksi dan abses pada organ-organ tubuh yang dihinggapinya.
c.Keduanya merupakan infeksi berat.
d. Gejala septikemia lebih akut dan dari awal ibu kelihatan sudah sakit dan lemah.
9
 
e.Keadaan umum jelek
f.Suhu meningkat antara 39°C – 40°C, menggigil, nadi cepat 140 – 160 x per menit atau lebih. TD turun, keadaan umum memburuk. Sesak nafas, kesadaran turun, gelisah.
g.Piemia dimulai dengan rasa sakit pada daerah tromboplebitis, setelah ada penyebaran trombus terjadi gejala umum diatas.
h. Lab: leukositosis.
i.Lochea: berbau, bernanah, involusi jelek.
3.         Peritonitis
a.Peritonitis terbatas pada daerah pelvis (pelvia peritonitis): demam, nyeri perut bagian bawah, KU baik.
b.Peritonitis umum: suhu meningkat, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, terdapat abses pada cavum Douglas

4.         Sellulitis Pelvika
Pada periksa dalam dirasakan nyeri, demam tinggi menetap dari satu minggu, nadi cepat, perut nyeri, sebelah/kedua belah bagian bawah terjadi pembentukkan infiltrat yang dapat teraba selamaVT. Infiltrat kadang menjadi abses.
5.         Salfingitis dan Ooforitis
Gejala hampir sama dengan pelvio peritonitis.

2.9.      Pengobatan Infeksi Nifas
10
 
Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan serviks, luka operasi dan darah, serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. Berikan dosis yang cukup dan adekuat. Sambil menunggu hasil laboratorium berikan antibiotika spektrum luas. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus, transfusi darah, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh, serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai.


















11
 
 
BAB III
PENUTUP

3.1         Kesimpulan
Dalam penerimaan masalah baik fisiologis maupun potologis setiap orang berbeda-beda hal ini tergantung dari tingkat pengetahuan maupun wawasan masing-masing individu serta lingkungan dan budaya yang selalu mempengarui kehidupannya.
Asuhan kebidanan pada ibu nifas akan lebih baik bila melibatkan keluarga. Oleh karena orang terdapat dalam memberikan asuhan adalah keluarga disamping ituibu juga masih memerlukan bantuan dan dukungan penuh untuk kesehatan fisik maupun psikologis.
3.2         Saran
Bagi Tenaga Kesehatan : Diharapkan petugas memberikan pelayanan Kesehatan yang komprehensif dan meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat.
Bagi Pembimbing : Mohon dalam melakukan bimbingan penyusunan asuhan kebidanan mengacu pada satu pedoman, agar mahasiswa tidak kesulitan dalam penyusunan Askeb.








12